KH. Dalhar Munawwir

KH. Dalhar adalah putera pasangan KH. Moehammad Moenawir (Pendiri Pondok Pesantren Krapyak) dengan Ibu Nyai Salimah binti Ilyas, lahir pada tahun 1933 M di Krapyak Jogjakarta. K.H. Dalhar Munawwir menyunting Nyai Rr. Siti Makmunah, puteri K.R. Ahmad Sirodj, ulama kharismatis Thoriqoh Syadziliyah dari Purworejo. Kyai Dalhar Munawir dikaruniai enam putera (lima putera dan satu puteri).
Sejak kecil Kiai Dalhar mendapat bimbingan langsung dari Sang Ayah Kiai Moenawir, dan saat berusia 8 tahun, Sang Ayah Kiai Moenawir wafat tahun 1942. Pasca wafat ayahnya, Kiai Dalhar tumbuh dan mengaji al-Quran dari kakaknya, Kiai Abdul Qodir Munawir, dan dengan saudara-saudaranya mengaji ke Kiai Haji Ali Maksoem, kakak iparnya. Keinginan yang kuat untuk mengaji, beliau juga mengaji kepada Mbah Kiai Dalhar Watucongol Magelang, Kiai Sirodj Payaman Magelang, Kiai Musyafa’ Kaliwungu, Kiai Dimyati Comal Pemalang, Kiai Suyuthi Rembang, dan Kiai Bisri Musthofa Rembang.
Sang Ibu Nyai Salimah (isteri ketiga Kiai Moehammad Moenawir, wafat 1967) disertai putera-puterinya, merupakan muassis, pendiri pondok Pesantren putri Krapyak tahun 1953. Kiai Dalhar Munawir dibantu dengan saudara-saudaranya, meneruskan keberlanjutan Pondok Putri Krapyak, peninggalan ibunya, Nyai Salimah. Saat ini Pondok Pesantren Peninggalan Ibu Nyai Salimah, dikenal dengan Pondok Pesantren Nurussalam Krapyak Yogyakarta.
Kiai Dalhar Munawir bersama-sama tokoh IPNU dan tokoh Nahdlotul UIlama Jogjakarta di akhir tahun 1950-an, memprakarsai berdirinya Madrasah Mualimat Yogyakarta dan Madrasah Mualimin Bantul, sebuah lembaga pendidikan berbasis Madrasi Nahdlotul Ulama di Jogjakarta.
Sebagai pendidik, Kiai Dalhar Munawir meninggalkan tulisan “An Namiqotu fil Qowaidul Fiqhiyyah”, 40 kaidah fiqih, ditulis berbahasa Indonesia. Pada tahun 1980-an, bersama dengan Jemaah Haji Bantul memprakarsai “Khodamatul Hujjaj”, pelayanan Haji, sebagai wadah upaya peningkatan jamaah haji, dengan mendirikan Masjid Khudamatul Hujaj di Sewon Bantul.
Pada hari rabu, 18 November 2009, pukul 10.00 WIB, langit Krapyak mendung, Kiai Gagah berperawakan tinggi besar yang selalu dipanggil “Pak”,” Bapak”, atau “Mbah”, sosok bersahaja dan sederhana itu berpulang di usia 76 tahun, dan dikuburkan tepat sebelah barat pusara isteri tercinta, Nyai Rr. Siti Makmunah, di kompleks maqbaroh ayahandanya, Kiai Moehammad Moenawir. Ribuan santri menangis mengiringinya. Al-Fatikhah…
0 Komentar