KH. R. Abdul Qodir Munawwir

Beliau merupakan putera kedua K.H. Moehammad Moenawir, Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir, Krapyak Yogyakarta. Dari silsilah ibu, beliau adalah keturunan Keraton Yogyakarta, yakni Ibu Nyai R.A. Mursyidah binti K.H. Muhammad Hamim.
Pada usia 18 tahun, beliau telah menggantikan estafet tanggung jawab mengajar al-Qur’an ayah beliau. Meski masih muda, beliau telah mendapatkan tempaan dari guru-guru beliau, khususnya pengajaran Al Quran dari ayahanda beliau sendiri dan mbah Kiai Dalhar Watucongol Muntilan Magelang.
Saat berusia 25 tahun, beliau dinikahkan dengan Nyai Salimah binti Kiai Nawawi, oleh Mbah Kiai Manshur Popongan, seorang ulama mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah Kholidiyyah, Pondok Popongan, Klaten. Sebagaimana ayahndanya, beliau meneruskan pengajaran al-Quran dengan menerapkan standar tertentu, hal ini terlihat saat wisuda santri khataman al-Quran, adalah santri yang mampu membaca al-Quran 30 juz bil hifdzi sebagai imam tunggal, dalam sholat tarawih selama bulan Ramadhan. Artinya, membaca al-Quran 30 juz bil hifdhi dalam mengimami sholat tarawih
sendirian selama bulan Ramadhan Kiai Abdul Qodir Munawwir, memulai aktivitas jam 3 dini hari pagi, dilanjutkan mengajar santri putra selesai dzikir pagi sampai pukul 07.0 pagi, istirahat, dilanjutkan mengajar santri putri. Selepas Dhuhur, beliau mengajar lagi di masjid untuk santri bil hifdzi, bin Nadhri, (termasuk adik-adiknya) hingga jam lima sore. Pengajaran Qiroat Sab’iyyah kepada beberapa santri beliau.
Saat bepergian, beliau biasa menghatamkan al-Quran. Suatu ketika, beliau berziarah dengan santri, ba’da Ashar dimulai dari Makam Dongkelan, dilanjutkan ke Makam Sewu Bantul, sampai di Giriloyo pukul sepuluh malam untuk beristirahat. Dilanjutkan paginya menuju Musholla Gesikan, Di sini beliau membaca tahlil dan doa khatam al-Quran, sebelum kembali lagi menuju rumah beliau di Pesantren Krapyak.
Selain aktif mengisi pengajian di desa-desa, beliau aktif di organisasi Jam’iyyatul Qurro’ wal Huffadz Pusat, juga di Nahdlotul Ulama Yogyakarta, menghadiri undangan masyarakat, lebih-lebih masyarakat yang kurang mampu. Kondisi yang demikian padat aktifitasnya, disertai beliau menderita sakit diabetes, membuat kesehatannya semakin menurun.
Dalam kondisi kritis, masih sempat terakhir kalinya Kiai Abdul Qodir Munawwir menghatamkan Al-Quran 30 juz. Pada hari Kamis malam Jumat, tepat tanggal 2 Februari 1961, di RS Pantih Rapih Jogjakarta pada usia 42 tahun, Allah Swt memanggil beliau. Saat Kiai Haji Raden Abdul Qodir wafat, beliau meninggalkan seorang isteri, 5 orang putera-puteri, Umi Salamah (9 tahun), Muhammad Najib (6 tahun), Munawaroh (4 tahun), Abdul Hamid (2 tahun) yang saat ini menjadi pengasuh utama Pondok Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta, dan Abdul Hafidz (usia 6 bulan di kandungan).
(*)
Dicuplik dari buku “Romo Kiai Abdul Qodir, Pendiri Madrasatul Huffadz Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak”, Mas’udi Fathurrahman.
0 Komentar