KH. Mufid Mas’ud

Published by Administrator on

kh mufid

Al-Mukarram K.H. Mufid Mas’ud lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tahun 1928, bertepatan dengan hari Ahad Legi 25 Ramadhan. Beliau merupakan putra kedua dari tujuh bersaudara. Ayahanda beliau bernama Kiai Ali Mas’ud yang kini makamnya berada di kompleks makam Golo Paseban Bayat, Klaten.

Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang agamis. Beliau mendapatkan bimbingan keagamaan pertama kali langsung dari orang tua, sedangkan pendidikan dasar K.H. Mufid ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah Manbaul ‘Ulum, cabang Solo. Lembaga pendidikan Islam ini didirikan oleh Paku Buwono X. Dan ketika K.H. Mufid menempuh pendidikan di sana, madrasah tersebut diasuh oleh K.H. Sofwan.

K.H. Mufid mengenyam pendidikan dasar di Manbaul ‘Ulum selama lima tahun, yaitu mulai tahun 1937 hingga 1942. Kemudian, pada tahun 1942 pula, beliau belajar di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Tahun itu bertepatan dengan tujuh bulan setelah kedatangan tentara kolonial Jepang di Indonesia.

Tiga tahun kemudian, yaitu tahun 1945, beliau melanjutkan hafalan Al-Qur’an kepada K.H. Muntaha di Wonosobo. Langkah ini beliau tempuh atas anjuran gurunya di Klaten, K.H. Sofwan. Namun di tahun 1950, K.H. Mufid kembali ke Krapyak dan menikah dengan putri K.H. Munawir (pengasuh Pesantren Krapyak), Hj. Jauharoh.

Sejak saat itu, K.H. Mufid termasuk salah satu pengasuh Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Meski demikian, beliau masih tetap mengaji Al-Qur’an kepada K.H. Abdul Qadir dan K.H. Abdullah Affandi. Sedangkan untuk memperdalam ilmu-ilmu keislamannya, beliau mengaji kitab kepada K.H. Ali Maksum.

Keuletan K.H. Mufid saat mendalami ilmu agama tidak pernah disangsikan oleh orang-orang terdekatnya. Adik beliau, Hj. Qomariyah Abdul Chanan misalnya, menyatakan bahwa kakak kandungnya itu sangat rajin menuntut ilmu.

Disamping sangat rajin belajar, ada hal penting lain yang menurut beliau harus dijalankan oleh seorang pencari ilmu agar mendapatkan ilmu yang berkah, yaitu shuhbatu ustazin atau taat dan bersahabat karib dengan guru.

K.H. Mufid, dalam banyak kesempatan menekankan pentingnya shuhbatu ustazin itu. Beliau mengaku sering bersilaturahmi dengan tokoh-tokoh Islam. Bahkan, mengakui pula telah terpengaruh oleh mereka.

Di antaranya adalah K.H. Abdul Hamid (Pasuruan), Sayyid Muhammad Ba’abud (Malang), K.H. Muntaha (Wanosobo), K.H. Ali Maksum (Yogyakarta), Syeikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa (Makkah), dan Sayyid Muhammad bin Sayyid Alwy Al-Hasani Al Maliky Al-Makky (Makkah).

Dengan modal Al-Qur’an, pengetahuan keislaman, dan jalinan silaturahmi yang erat dengan tokoh-tokoh Islam itu, KH. Mufid berketetapan hati mendirikan pesantren yang hingga kini dikenal dengan Pondok Pesantren Sunan Pandananaran (PPSPA).

Mula-mula, pesantren ini berdiri di atas tanah wakaf seluas 2000 meter persegi, dengan satu rumah dan mushalla di atasnya. Secara resmi PPSPA berdiri pada 17 Dzulhijjah 1395 H, bertepatan dengan tanggal 20 Desember 1975 M. Peresmiannya dilakukan oleh Sri Paduka Paku Alam VIII, dengan disaksikan Bupati Sleman, Drs. Projosuyoto, serta tokoh-tokoh agama dan masyarakat.

Di mata para santrinya, K.H. Mufid dikenal sebagai seorang pendidik yang tegas dan penuh perhatian. Dengan panggilan yang khas kepada para santrinya yaitu “ananda”, para santri sangat merasakan kedekatan secara emosional dengan beliau.

Beliau juga rela mencurahkan sebagian besar waktunya untuk menyimak dan memperbaiki hafalan para santri, ketegasan dan perhatiannya itulah yang menjadikan para alumni Pondok Pesantren Sunan Pandanaran mempunyai komitmen yang cukup kuat untuk senantiasa mencurahkan hidupnya untuk Al Quran.

Perhatian beliau kepada para santrinya ditunjukkan dengan senantiasa menanyakan kelancaran hafalan dan keistiqomahan dalam menjaga hafalan, juga ditunjukkan melalui kerelaan beliau mengunjungi rumah para santrinya di sela-sela ziarah rutin beliau ke makam para guru beliau atau di sela-sela jadwal dakwah yang beliau lakukan.

Beliau wafat pada hari senin, tanggal 2 April 2007 pukul 22.45 dalam usia 83 tahun, dengan meninggalkan amanat berupa Pondok Pesantren Sunan Pandanaran (PPSPA) yang sekarang diasuh oleh putra beliau DR. K.H. Mu’tashim Billah, SQ, M. Pd.I -Al Hafidh-.

Keberadaan PPSPA diharapkan mampu mengubah tatanan masyarakat. Dari masyarakat yang kurang memegang nilai-nilai moral, menuju masyarakat yang menjunjung tinggi moralitas kemanusiaan dalam naungan Al Quran. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan maghfirohnya kepada beliau dan menempatkannya bersama para Nabi, Shiddiqin, Syuhada’ dan orang-orang sholih. Aamiin

Kategori: Tokoh

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

©2026 bashoriyah.id