KH. Ahmad Warson Munawwir

K.H. Ahmad Warson Munawwir adalah putra kesepuluh dari K.H. Muhammad Munawwir bin K.H. Abdullah Rosyad bin K.H. Hasan Besari dan Ibu Nyai Hj. Khodijah Sukistiyah binti K.H. Tuhfatur Rosyid. Beliau dilahirkan pada hari Jumat Pon, tanggal 30 November 1934 M. bertepatan dengan tanggal 22 Sya’ban 1353 H.
K.H. Ahmad Warson Munawwir mengenyam pendidikan di pondok tempat kelahiran sendiri, di bawah bimbingan kakak ipar beliau, K.H. Ali Maksum. Beliau tidak pernah nyantri ke guru selain K.H. Ali Maksum. Berkat kecerdasan yang menonjol dan metode pengajaran yang intensif dari K.H. Ali Maksum, K.H. Ahmad Warson Munawwir berhasil menguasai kajian-kajian keagamaan dan Bahasa Arab, utamanya Ilmu Nahwu, Shorof, dan Balaghoh. Kepakaran beliau terlihat dengan keberhasilan menyusun karya masterpiece kamus Arab-Indonesia terbesar, yaitu Kamus al-Munawwir.
K.H. Ahmad Warson Munawwir yang dikenang sebagai sosok yang rendah hati, penyayang, penuh perhatian, humoris, dan egaliter itu menikah dengan Ibu Nyai Hj. Husnul Khotimah binti Imam Machfud dari Purworejo. Beliau berdua dikaruniai seorang putra, H. Muhammad Fairuz, dan seorang putri, yaitu Hj. Qorry Aina.
Di samping mengajar dan menulis, K.H. Ahmad Warson Munawwir juga memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Sejak muda beliau aktif di organisasi Nahdlatul Ulama. Dimulai dari menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Gerakan Pemuda Ansor hingga kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pada tahun 1962, beliau dipercaya menjadi pemimpin redaksi media NU, Harian Duta Masyarakat. Beliau juga terpilih sebagai Ketua Wilayah GP Ansor DIY masa khidmat 1965-1968. Dan pada tahun 1965 beliau dipercaya menjadi Ketua Aliansi Generasi Muda Islam (Gemuis) DIY.
K.H. Warson oleh karena itu juga aktif dalam pergerakan partai politik. Pada 1971, saat NU yang sebelumnya merupakan partai politik harus dilebur menjadi satu wadah Partai Persatuan Pembangunan (PPP), maka beliau pun menjadi pengurus partai tersebut. Keaktifan di partai membawa beliau menduduki kursi DPRD DIY periode 1977-1982. Beliau juga turut memprakarsai kelahiran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU).
Di lingkungan Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak, K.H. Ahmad Warson Munawwir mengembangkan asrama yang dikhususkan untuk santri-santri putri yang ingin mendalami ilmu agama, sambil sekolah di lembaga-lembaga pendidikan umum. Asrama yang dirintis sejak tanggal 22 September 1989 itu dikenal dengan nama Komplek Q. Hari ini Komplek Q, yang pembangunan utamanya diperoleh melalui royalty penjualan Kamus al-Munawwir itu bertambah maju dan berkembang pesat. Selain mengadakan program pengajian kitab dan tahfidzul Qur’an bagi santri putri dewasa, saat ini Komplek Q juga telah memiliki Madrasah Tahfidz Putri Anak (MTPA), Madrasah Ibtidaiyah Tahfidzul Qur’an (MITQ), dan Madrasah Tsanawiyah Tahfidzul Qur’an (MTsTQ). K.H. Ahmad Warson Munawwir wafat pada hari Kamis Pahing, tanggal 18 April 2015 M. bertepatan dengan tanggal 7 Jumadil Akhir 1434 H. Beliau dimakamkan di makam nDongkelan, bersama dengan ayahanda beliau, K.H. Muhammad Munawwir.
0 Komentar