K.H. Zainal Abidin Munawwir

Published by Administrator on

kh zainalabidinmunawwir

K.H. Zainal Abidin Munawwir adalah putra kesembilan pasangan K.H. Muhammad Munawwir bin K.H. Abdullah Rosyad bin K.H. Hasan Besari dan Ibu Nyai Hj. Khodijah Sukistiyah binti K.H. Tuhfatur Rosyid. Beliau dilahirkan pada tanggal 31 Desember 1931.

Pada saat muda, selain menempuh pendidikan formal, K.H. Zainal Abidin Munawwir sehari-hari belajar di pondok pesantren bersama saudara-saudaranya sendiri di Krapyak. K.H. Zainal Abidin tidak pernah mondok, karena beliau hanya mengaji kepada K.H. Ali Maksum, sang kakak ipar. Sebagai adik K.H. Ali Maksum, K.H. Zainal Abidin merasa diayomi karena ilmu apa saja dapat beliau peroleh dari sang kakak.

K.H. Zainal Abidin Munawwir menikah pada tahun 1984 dengan Ibu Nyai Hj. Ida Fatimah. Bu Nyai Ida Fatimah berasal dari Bangil, Pasuruan, putri K.H. Abdurrahman dan Ibu Nyai Hj. Aisyah. Beliau sempat mengaji di Komplek Nurussalam Pondok Pesantren Al Munawwir yang diasuh oleh K.H. Dalhar Munawwir, dan kemudian berlanjut di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran yang diasuh oleh K.H. Mufid Mas’ud. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, yaitu Muhammad Munawwir, Khoiruzzad, dan Khumaero`.

Sepeninggal allahuyarham K.H. Ali Maksum, bersama dengan segenap putra-putri almaghfurlah K.H. Muhammad Munawwir, beliau melanjutkan estafet kepemimpinan dan kepengasuhan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak. Beliau juga merintis dan menginisiasi pendirian Madrasah Salafiyah (setingkat sekolah menengah) dan Ma’had Ali (setingkat perguruan tinggi) di PP Al Munawwir Krapyak.

K.H. Zainal Abidin Munawwir dikenal sebagai pribadi yang disipilin, tegas dan kuat memegang prinsip dan ajaran. Kajian fiqh menjadi fokus kajian beliau, dan hal tersebut sangat tercermin dalam kehidupan beliau sehari-hari.

Selain aktif mengajar dan mengasuh pesantren, K.H. Zainal Abidin juga banyak meluangkan waktu menyertai kegiatan-kegiatan sosial-keagamaan di tengah masyarakat. Beliau aktif di kepengurusan NU. Beliau juga berminat dengan soal politik, karena bagi beliau, politik adalah ladang dakwah. Beliau juga sempat menjadi anggota DPRD Propinsi DIY, meskipun kemudian mengundurkan diri karena merasa lingkungan kerjanya tidak cocok dengan kepribadian beliau.

K.H. Zainal Abidin Munawwir juga memiliki hobi membaca dan menulis. Banyak karya yang telah beliau hasilkan, antara lain: kitab panduan belajar “Wadla’if Muta’allim”, al-Muqtathafat, al-Furuq, Kitabush Shiyam, Manasik Haji, kitab Insya’, Majmu’ Rasa’il, Tarikhul Hadlarah dan buku khutbah Jum’at.

K.H. Zainal Abidin Munawwir wafat pada hari Sabtu, 15 Februari 2014 M, bertepatan dengan tanggal 15 Robi’ul Akhir 1435 H. Beliau dimakamkan di Padukuhan Sorowajan Panggungharjo, yang letaknya berjarak sekitar 1 km dari pondok.

Kategori: Tokoh

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

©2026 bashoriyah.id