Sejarah

Sejarah Singkat K.H. Hasan Bashori

ilustrasi

K.H. Hasan Bashori atau Kasan Basari adalah ulama dan salah satu komandan/panglima perang Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa tahun 1825-1830. K.H. Hasan Bashori berjuang, dan ditahan, serta diasingkan bersama pejuang lain oleh Kolonial Belanda. Sampai sekarang makam beliau belum diketahui keberadaannya.

Beliau menurunkan putra, K.H. Muhammad Khamim (Khatib Cendana) Kauman Yogyakarta, Nyai Misbah Rejondani Sleman, Nyai Mukhtar Gerjen Sayegan Sleman, K.H. Abdullah Rosyad (Khatib Anom) Dongkelan Yogyakarta, Nyai Ali Gulon Muntilan Magelang, K.H. Mukhayat Tukangan Yogyakarta, dan Kiai Abdurrahman.

Putra K.H. Hasan Bashori adalah pejabat keagamaan di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat seperti K.H. Muhammad Khamim (Khotib Cendana) dan K.H. Abdullah Rosyad (Khotib Anom). Putra K.H. Abdullah Rosyad diantaranya adalah K.H. Muhammad Munawwir, Pendiri Pesantren Krapyak, Yogyakarta, sebuah pesantren yang melahirkan murid para pendiri pesantren Al Qur`an di Jawa, sedangkan K.H. Mudzakkir, adalah ayah Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, Rektor Magnificus Universitas Islam Indonesia (UII) dan salah satu penandatangan Piagam Jakarta yang juga merupakan seorang pahlawan nasional.

Kiai Hasan Bashori juga pernah diutus oleh Pangeran Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi untuk menyampaikan surat ajakan perang kepada masyarakat Kedu (Magelang dan sekitarnya) agar semuanya lekas sedia mengangkat senjata untuk mengusir penjajah dari negeri Kedu. Adapun bunyi surat tersebut sebagai berikut:

Soerat ini datang dari saja Kandjeng Goesti Pangeran Diponegara serta Pangeran Mangkuboemi di Djokjakarta adiningrat kepada semua teman di Kedoe, menjatakan, bahwa sekarang negeri Kedoe soedah saja minta.

Orang semoeanja mesti tahoe akan hal ini, laki-laki perempuan, besar ketjil tidak perloediseboetkan satoe persatoe.

Adapoen, orang jang saja soeroeh, namanja Kasan Basari; Djikalau soedah mengikoeti soerat oendangan saja ini, biarlah lekas sedia sendjata, biar reboet negeri dan betoelkan Agama Rasoel. Djikalau ada jang berani tiada maoe pertjaja akan boenjinja soerat saja, maka dia saja potong lehernja.

Kemis tanggal 5 boelan Hadji tahoen Be (31 Djoeli 1825)

©2026 bashoriyah.id